This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Belajar Untuk Masa Depan

Tugas Sekarang Jangan Ditunda Besok Atau Bulan Depan

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Impian Dari Keinginan

Kesuksesan Berawal Dari Prestasi

Pages

Tampilkan postingan dengan label PTKlaporan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PTKlaporan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Oktober 2012

UPAYA MENINGKATKAN DISIPLIN GURU DALAM KEHADIRAN MENGAJAR DIKELAS MELALUI PENERAPAN REWARD AND PUNISHMENT DI SD

Sumbdr: Jurnal Pendidikan Dwija Utama 
Edisi Februari 2012

UPAYA MENINGKATKAN DISIPLIN GURU   DALAM KEHADIRAN MENGAJAR DIKELAS MELALUI PENERAPAN  REWARD AND PUNISHMENT  DI SD NEGERI 3 GOMBANG KECAMATAN CAWAS KABUPATEN KLATEN SEMESTER II TAHUN AJARAN 2010/2011
Oleh. Dwi Harjoko

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan penelitian ini adalah ingin mencari alternatif pemecahan masalah sebagai upaya meningkatkan disiplin guru dalam kehadiran mengajar dikelas melalui penerapan Reward and Punishment.
Penelitian tindakan ini dilakukan terhadap Kepala sekolah, guru di SD Negeri 3 Gombang Kecamatan Cawas Kab. Klaten Semester II Tahun ajaran 2010/2011. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian tindakan sekolah yang alurnya, yaitu membuat siklus  yaitu dari rencana tindakan, melaksanakan tindakan, observasi dan refleksi pelaksanaan tindakan  selama dua  siklus. Hasil refleksi tersebut digunakan sebagai pedoman untuk pengambilan keputusan mengambil keputusan melanjutkan atau menghentikan penelitian. Penelitian dilakukan secara spiral dalam siklus-siklus sampai siklus kedua.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja guru meningkat setelah dilakukan tindakan yang berupa penerapan Reward and Punishment selama dua siklus. Peningkatan tersebut meliputi peningkatan dalam Menyusun program sekolah, melaksanakan, membuat administrasi, melaksanakan evaluasi hingga pada  kedisiplinan masuk kelas, melaksanakan pembelajaran, menilai prestasi belajar, dan melaksanakan tindak lanjut penilaian prestasi belajar siswa.
Peningkatan mutu pembelajaran disekolah sangat tergantung dari beberapa faktor. Faktor yang sangat penting antara lain adalah penerapan budaya sekolah kearah peningkatan mutu. Budaya sekolah merupakan hal yang positif yang harus dipertahankan dan dilaksanakan oleh semua warga sekolah tanpa merasa terpaksa. Budaya sekolah yang harus dipertahankan salah satunya adalah masalah kedisiplinan, termasuk disiplin para guru dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar. Untuk meningkatkan disiplin para guru dapat diupayakan melalui bermacam-macam cara.
Dalam Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini, dicobakan tindakan berupa penerapan Reward and Punishment untuk para guru di SD Negeri 3 Gombang Kecamatan Cawas kab. Klaten. Hasil Penelitian menunjukkan pada siklus kedua, kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar meningkat dan memenuhi indikator yang telah ditetapkan sebesar 75%. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan disiplin guru dalam kehadiran dikelas pada kegiatan belajar mengajar dapat dilakukan dengan penerapan Reward and punishmen kepada guru.

Kata Kunci : Disiplin guru, Reward and punishment

PENDAHULUAN
A.Latar belakang masalah
Guru  adalah suatu sebutan bagi jabatan, posisi, dan profesi bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan melalui  proses  edukatif secara terpola, formal, dan sistematis. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (pasal 1) dinyatakan bahwa: “Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengrahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah”. Guru professional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode.
Untuk meningkatkan peranan guru dalam proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa, maka guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan mampu mengelola kelas. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan, kedisiplinan guru dan pegawai adalah sikap penuh kerelaan dalam mematuhi semua aturan dan norma yang ada dalam menjalankan tugasnya sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap pendidikan anak didiknya. Karena bagaimana pun seorang guru atau tenaga kependidikan (pegawai), merupakan cermin bagi anak didiknya dalam sikap atau teladan, dan sikap disiplin guru dan tenaga kependidikan (pegawai) akan memberikan warna terhadap hasil pendidikan yang jauh lebih baik.
Peranan guru selain sebagai seorang pengajar, guru juga berperan sebagai seorang pendidik. Pendidik adalah seiap orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi (Sutari Imam Barnado, 1989:44). Sehinggga sebagai pendidik, seorang guru harus memiliki kesadaran atau merasa mempunyai tugas dan kewajiban untuk mendidik.
Keteladanan guru dapat dilihat dari prilaku guru sehari-hari baik didalam sekolah maupun diluar sekolah. Selain keteladanan guru, kedisiplinan guru juga menjadi salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh guru sebagai seorang pengajar dan pendidik. Fakta dilapangan yang sering kita jumpai disekolah adalah kurang disiplinnya guru, terutama masalah disiplin guru masuk kedalam kelas pada  saat kegiatan pembelajaran dikelas.Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan sekolah dengan judul : ”Upaya Meningkatkan Disiplin Guru dalam Kehadiran Mengajar Dikelas Melalui penerapan Reward and Punishment di SD Negeri 3 Gombang Kecamatan Cawas.
B. Identifikasi Masalah
Masalah-masalah yang mendasari dari penelitian ini dalah 1. Masih banyak guru yang datang terlambat ke sekolah;2. Masih urangnya disiplin guru dalam kehadiran mengajar dikelas.  3.Guru masih sering terlambat masuk kelas.
C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada upaya meningkatkan disiplin guru dalam kehadiran guru di kelas melalui reward and punishment.
D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : ”Apakah penerapan Reward and Punishment dapat meningkatkan kedisiplinan guru dalam kehadiran mengajar di kelas ?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mencari alternatif pemecahan masalah sebagai upaya meningkatkan disiplin guru dalam kehadiran mengajar dikelas melalui penerapan Reward and Punishment.
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori
1.Hakekat Budaya sekolah
    Berbagai penelitian menunjukkan peran kunci yang dapat dilakukan kepala sekolah agar dapat meningkatkan belajar dan pembelajaran, jelas bahwa kepala sekolah harus berperan sebagai leaders for learning (The Institute for Educational Leadership, 2000). Para kepala sekolah harus mengetahui isi pelajaran dan teknikteknik pedagogis. Para kepala sekolah harus bekerja bersama guru untuk meningkatkan keterampilan.
Beberapa manfaat yang bisa diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah, diantaranya : (1) menjamin kualitas kerja yang lebih baik; (2) membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal; (3) lebih terbuka dan transparan; (4) menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi; (4) meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan; (5) jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki; dan (6) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK. Selain beberapa manfaat di atas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah :  (1) meningkatkan kepuasan kerja; (2) pergaulan lebih akrab; (3) disiplin meningkat; (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan; (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif; (6) belajar dan berprestasi terus serta; dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri.
2.Hakekat Kedisiplinan
Disiplin adalah kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. Adapun arti kesadaran adalah sikap seseorang yang secara sukarela menaati semua peraturan dan sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Sedangkan arti kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku, dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan peraturan perusahaan baik yang tertulis maupun tidak (Hasibuan ,1997:212). Menurut Davis disiplin kerja dapat diartikan sebagai pelaksanaan manajemen untuk  memperteguh pedoman-pedoman organisasi (Mangkunegara, 2000 : 129).
Dalam upaya penerapan kedisiplinan guru pada kehadiran dikelas dalam kegiatan belajar mengajar, bisa ditempuh dengan beberapa upaya. Adapun upaya dalam meningkatkan disiplin guru adalah sebagai berikut: (a) sekolah memiliki sistem pengendalian ketertiban yang dikelola dengan baik, (b) adanya keteladanan disiplin dalam sikap dan prilaku dimulai dari pimpinan sekolah, (c)  mewajibkan guru untuk mengisi agenda kelas dan mengisi buku absen yang diedarkan oleh petugas piket, (d) pada awal masuk sekolah kepala sekolah bersama guru membuat kesepakatan tentang aturan  kedisiplinan, (e) memperkecil kesempatan guru untuk ijin meninggalkan kelas,  dan (f) setiap rapat pembinaan diumumkan frekuensi pelanggaran terendah. Dengan strategi tersebut diatas kultur disiplin guru dalam kegiatan pembelajaran bisa terpelihara dengan baik, suasana lingkungan belajar aman dan terkendali sehingga siswa bias mencapai prestasi belajar yang optimal.
3. Hakekat Reward dan punishment
Reward dan punishment dikenal sebagai ganjaran, merupakan dua metode yang lazim diterapkan di sebuah organisasi, instansi, atau perusahaan yang menargetkan adanya produktivitas kerja yang tinggi dari para karyawannya.
Reward artinya ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan. Dalam konsep manajemen, reward merupakan salah satu alat untuk peningkatan motivasi para pegawai. Metode ini bisa meng-asosiasi-kan perbuatan dan kelakuan seseorang dengan perasaan bahagia, senang, dan biasanya akan membuat mereka melakukan suatu perbuatan yang baik secara berulang-ulang. Selain motivasi, reward juga bertujuan agar seseorang menjadi giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau meningkatkan prestasi yang telah dicapai.
Sementara punishment diartikan sebagai hukuman atau sanksi. Jika reward merupakan bentuk reinforcement yang positif; maka punishment sebagai bentuk reinforcement yang negatif, tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Tujuan dari metode ini adalah menimbulkan rasa tidak senang pada seseorang supaya mereka jangan membuat sesuatu yang jahat. Jadi, hukuman yang dilakukan mesti bersifat pedagogis menuju kearah yang lebih baik.
B.Hipotesis
Hipotesis yang diajukan pada penelitin tindakan sekolah ini adalah “Penerapan Reward dan punishment dapat meningkatkan kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar di SDN 3 Gombang Kecamatan Cawas Kab. Klaten”
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
    Penelitian ini dilakukan pada semester II tahun pelajaran 2010/2011 di SD  Negeri 3 Gombang, sedangkan yang menjadi subyek penelitian adalah seluruh guru SDN 3 Gombang berjumlah 12 orang yang terdiri dari 7 guru PNS dan 5 Non PNS.
B Teknik Pengumpulan Data 
1. Wawancara
Teknik ini digunakan untuk mendapatkan data dari informan secara langsung. Dalam melakukan wawancara dipergunakan pedoman wawancara yang terbuka. 
2. Pengumpulan data sekunder 
Teknik ini digunakan untuk mengumpul data sekunder melalui dokumen-dokumen tertulis yang diyakini integritasnya karena diperoleh dari hasil dialog bersama kolaborator, data base sekolah, dan lain-lain.
3. Observasi atau pengamatan
Observasi digunakan untuk melengkapi data dari wawancara dan pengumpulan dokumentasi, terutama dalam lingkup masalah penelitian, antara lain mengamati impelementasi kebijakan yang berkaitan dengan kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas pada kegiatan belajar mengajar.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tindakan sekolah ini antara lain 1.Skala Penilaian ; 2.Lembar Pengamatan ; 3.Angket
D. Teknik Analisis Data
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif yang bersumber dari data primer maupun empiris. Melalui analisa data ini, dapat diketahui ada tidaknya peningkatan kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas melalui pemberian reward dan punishment yang merupakan fokus dari penelitian tindakan sekolah ini.
E. Prosedur Penelitian
Secara singkat  PTS bertujuan untuk mencari pemecahan permasalahan nyata yang terjadi di sekolah-sekolah, sekaligus mencari jawaban ilmiah bagaimana masalah-masalah tersebut bisa dipecahkan melalui suatu tindakan perbaikan. Kegiatan penelitian tindakan sekolah ini, terdiri dari dua  siklus dan pada setiap siklus terdiri dari 4  tahap, yaitu : Perencanaan , Pelaksanaan , Pengamatan , Refleksi .
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.Hasil Penelitian
1. Siklus 1
a. Perencanaan
Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan oleh penulis saat akan memulai tindakan. Agar perencanaan mudah dipahami dan dilaksanakan oleh penulis yang akan melakukan tindakan, maka penulis membuat rencana tindakan sebagai berikut :
(a) Merumusan masalah yang akan dicari solusinya.
Dalam penelitian ini masalah yang akan dicari solusinya adalah masih banyaknya guru yang kurang disiplin dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar.
(b) Merumusan tujuan penyelesaian masalah/tujuan menghadapi tantangan/tujuan melakukan inovasi/tindakan.
Dalam penelitian ini penulis mengambil rencana untuk melakukan tindakan memberikan Reward dan Punishment kepada guru-guru untuk meningkatkan kedisiplinan guru dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar.
(c) Merumusan indikator keberhasilan penerapan Reward dan Punishment dalam meningkatkan disiplin guru dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar. Indikator keberhasilan penerapan tindakan ini penulis tetapkan sebesar 75%, artinya tindakan ini dinyatakan berhasil bila 75% guru tidak terlambat masuk kelas dalam proses pembelajaran.
(d) Merumusan     langkah-langkah kegiatan penyelesaian masalah/kegiatan menghadapi tantangan/kegiatan melakukan tindakan.
Langkah-langkah yang diambil penulis dalam melakukan tindakan antara lain adalah melakukan sosialisasi kepada para guru mengenai penelitian yang akan dilaksanakan, serta menyampaikan tujuan dari penerapan tindakan yang dilakukan oleh penulis. Kepada para guru disampaikan mengenai penerapan Reward dan Punishment yang akan diterapkan dalam penelitian ini. Pada siklus pertama ini, akan dipampang/ditempel diruang guru, maupun diruang TU, peringkat nama-nama guru yang paling rendah tingkat keterlambatan masuk kelasnya sampai yang paling tinggi tingkat keterlambatannya.
(e) Mengidentifikasi warga sekolah dan atau pihak-pihak terkait lainnya yang terlibat dalam penyelesaian masalah/menghadapi tantangan/melakukan tindakan.
Penulis melakukan identifikasi siapa saja yang dilibatkan dalam penelitian ini. Pihak-pihak yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah : guru, guru piket, TU, dan siswa.
(f) Mengidentifikasi metode pengumpulan data yang akan digunakan.
    Metode pengumpulan data yang diambil oleh penulis merupakan data kualitatif melalui observasi, pengamatan serta wawancara kepada siswa mengenai kehadiran guru dikelas pada kegiatan belajar mengajar.
(g) Penyusunan instrumen pengamatan dan evaluasi.
 Dalam pengambilan data, penulis menggunakan instrument berupa lembar observasi/pengamatan, skala penilaian serta angket yang disebarkan kepada siswa, untuk mengetahui penilaian dari siswa mengenai tingkat kehadiran guru dikelas dalam proses kegiatan belajar mengajar.
(h) Mengidenifikasi fasilitas yang diperlukan.
Fasilitas atau alat bantu yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : kertas (lembar pengamatan), alat tulis berupa balpoin, serta jam dinding yang ada disetiap kelas, serta rekap jumlah kehadiran dari setiap guru.
2.Pelaksanaan
Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui beberapa kegiatan, antara lain :
(a) Menyebarkan lembar pengamatan kepada setiap Ketua kelas atau Sekretaris kelas sebanyak 6 set, sesuai dengan banyaknya jumlah rombongan belajar di SD Negeri 3 Gombang sebanyak 6 rombongan belajar. Dalam lembar pengamatan itu, telah dibuat daftar guru yang mengajar dikelas itu setiap jam dan diberi kolom jam masuk kelas serta jam keluar kelas.
(b) Berkoordinasi dengan petugas piket yang setiap hari terdiri dari 2 orang petugas, yaitu dari guru yang tidak mempunyai jam mengajar pada hari itu dan satu orang dari tata usaha. Petugas piket akan mengedarkan daftar hadir guru dikelas yang telah dibuat agar dapat melihat tingkat kehadiran guru disetiap kelas dan disetiap pergantian jam pelajaran. Guru yang terlambat lebih dari 15 menit, dianggap tidak hadir dan diberi tanda silang. Daftar hadir guru dapat dilihat dalam lampiran.
(c) Setelah selesai jam pelajaran, dilakukan rekapitulasi dari hasil pengamatan, baik dari guru piket , dari siswa maupun dari penulis.
(d) Kegiatan tersebut dilakukan terus setiap hari kepada setiap guru selama satu minggu (satu siklus). 
3.Pengamatan dan Evaluasi
Pengamatan atau observasi dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan lembar observasi selama satu minggu (satu siklus), untuk semua guru yang berjumlah 12 orang. Selama pengamatan peneliti dibantu atau berkolaborasi dengan guru piket. Pengamatan oleh peneliti meliputi : (a) Kehadiran guru dikelas
(b) Tingkat keterlambatan guru masuk kelas (c) Waktu meninggalkan kelas setelah selesai pelajaran.
 Peneliti juga melakukan penilaian dari hasil lembar observasi yang dibagikan kepada pengurus kelas untuk mengamati kehadiran guru dikelas. Dari hasil pengamatan serta rekap dari tingkat kehadiran guru dikelas pada proses belajar mengajar dapat dilihat pada tabel berikut :
Rekapitulasi Tingkat Keterlambatan Guru Pada Kehadiran Dikelas
Siklus I

Waktu Keterlambatan/Jumlah/Prosentase       
Kurang dari 10 Menit     10 Menit s.d. 15 Menit     Lebih dari 15 Menit       
3    4     5       
21,74%     30,43%     47,83%    

4.Refleksi
Setelah selesai siklus I maka diadakan refleksi mengenai kelemahan atau kekurangan dari pelaksanaan tindakan pada siklus pertama. Refleksi dilaksanakan bersama-sama kolaborator untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya. Dari hasil refleksi dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perlu penerapan Reward dan Punishment yang lebih tegas lagi daripada siklus pertama.
Dari hasil rekapitulasi tingkat keterlambatan guru dikelas pada proses pembelajaran diperoleh data, sebanyak 3 orang guru terlambat masuk kelas kurang dari 10 menit, 4 orang guru terlambat masuk kelas 10 menit sampai dengan 15 menit, dan 5 orang guru terlambat masuk kelas lebih dari 15 menit.
Dari data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat keterlambatan guru masuk kelas lebih dari 15 menit pada proses kegiatan belajar mengajar masih tinggi yaitu 11 orang atau 47,83 %. Berdasarkan indicator yang telah ditetapkan bahwa keberhasilan tindakan ini adalah 75%, atau bila 75% guru tidak terlambat lebih dari 10 menit. Pada siklus pertama ini guru yang tidak terlambat lebih dari 10 menit baru 21,74%, jadi peneliti berkesimpulan harus diadakan penelitian atau tindakan lagi pada siklus berikutnya atau siklus kedua.

Sabtu, 29 September 2012

Upaya Peningkatan Kompetensi Menulis Karangan Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Dengan Model Paikem Bagi Siswa Kelas V

Sumber: Jurnal Pendidikan "Dwija Utama"
Edisi Agustus Tahun 2011



Upaya Peningkatan Kompetensi Menulis Karangan Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Dengan  Model Paikem Bagi Siswa Kelas V SD Negeri Banaran 01 Semester I Tahun Pelajaran 2010/2011
Khosyiatun

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan aktivitas, kreativitas, efektivitas, suasana belajar dan kompetensi menulis karangan dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan model Paikem bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun ajaran 2010/2011.
Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu bulan September 2010 sampai dengan bulan Nopember 2010. Penelitian dilakukan pada waktu itu karena materi yang berhubungan dengan kompetensi menulis karangan untuk siswa kelas V masuk materi program semester 1 tahun ajaran 2010/2011. Adapun Yang menjadi subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo, dengan jumlah siswa 16 yang terdiri dari 9 laki-laki dan 7 perempuan.
Prosedur penelitian yang digunakan yaitu prosedur jenis penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Analisis data, data kualitatif hasil pengamatan proses pembelajaran dianalisis menggunakan analisis diskriptif kualitatif dengan membandingkan siklus I dengan siklus II, sedangkan data yang berupa angka (data kuantitatif) dari hasil belajar siswa dianalisis menggunakan deskriftif komparatif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes siklus I dan nilai tes siklus II, kemudian direfleksi.
Hasil penelitian melalui model Paikem kompetensi menulis karangan dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan model Paikem bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun ajaran 2010/2011 meningkat Dari siklus I ke siklus II,terdapat peningkatan Dari kategori cukup aktif menjadi aktif. Aspek Kreatifitas Meningkat dari kategori cukup kreatif menjadi kreatif; Aspek efektivitas meningkat  dari kategori cukup efektif menjadi efektif .Aspek  suasana belajar meningkat  dari  kategori cukup menyenangkan menjadi menyenangkan. Sedangkan hasil belajar Dari kondisi awal  ke siklus II mengalami peningkatan yaitu  dari 4 siswa (25 %) yang mendapat nilai tuntas menjadi 16 (100%) meningkat 12 (75 %). Nilai rata-rata dari 60,31 menjadi 76,25 meningkat sebesar 15,94
Kata Kunci : Kompetensi Menulis Karangan. Model Paikem.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
                  Mengarang merupakan salah satu kompetensi yang harus dukuasai oleh siswa. Kegiatan menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui tulisan. Keterampilan menulis merupakan kegiatan produktif yang sebaiknya dimiliki  oleh seseorang. Pengetahuan serta keterampilan menulis dapat dimiliki melalui bimbingan dan latihan yang intensif, yaitu dimulai sejak di SD. Dengan memiliki kemampuan menulis peserta didik dapat mengkomunikasikan ide, penghayatan dan pengalamananya kepada berbagai pihak. Melalui pembelajaran menulis peserta didik dapat memperoleh pengetahuan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan daya nalar, emosional, serta berpikir kritis dan kreatif. Berdasarkan pengalaman di sekolah pembelajaran menulis khususnya mengarang masih mengalami kesulitan, ketika mendengar istilah menulis dan mengarang, bayangannya terkait pada sesuatu yang tidak menarik, menjemukan, dan bahkan memfrustasikan, yang mengakibatkan kompetensi menulis karangan siswa kelas V SD Negeri Banaran 01  Semester I tahun ajaran 2010/2011 masih rendah. Dari 16 siswa yang mendapat nilai  tuntas di atas KKM 63 hanya ada 4 (25 %) siswa dan yang mendapat nilai di bawah KKM ada 12 (75 %) siswa, dengan nilai rata-rata kelas 60,31. Sedangkan dilihat dari kreativitas mengarang siswa juga masih rendah, dimana saat siswa membuat karangan belum sistimatis pokok pikiran yang disusun masih tumpang tindih. Kalimat-kalimat dalam paragraf yang disusun masih kacau, tidak pas, sering terjadi pengulangan kata dan kalimat satu dengan kalimat lain dan satu paragraf tidak nyambung.
Rendahnya kompetensi menulis karangan disebabkan karena guru masih  berpandangan paradigma lama yaitu mengajar berpusat pada guru, dimana guru bertindak sebagai sumber informasi yang akan mentrasfer informasi kepada siswa, guru banyak menerapkan metode ceramah dan tugas, serta penyajian pelajaran yang monoton membuat suasana pembelajaran menjadi menjenuhkan dan  kurang dapat memotivasi siswa untuk lebih menyukai menulis karangan. Ketrampilan yang seharusnya dilatih dan dikembangkan kepada siswa justru didominasi oleh guru sendiri, sehingga ketrampilan mengarang terabaikan. Materi yang diberikan kepada siswa belum kontekstual atau belum sesuai dengan kehidupan nyata sehari-hari bagi siswa. Siswa hanya pasif menunggu datangnya informasi. Proses belajar mengajar seperti ini menyebabkan  siswa pasif, yang hanya memiliki pola belajar yang terkenal dengan DDCH ( Datang Duduk Catat, dan Hafal), atau D4 ( Datang Duduk Dengar, dan Diam).
Diharapkan guru perpandangan terhadap paradigma yang baru belajar diartikan sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses ini bisa dilakukan sendiri oleh siswa atau bersama dengan dengan orang lain. Mengingat belajar adalah kegiatan aktif siswa yaitu membangun pemahaman dari berbagai sumber informasi, maka partisipasi guru jangan sampai merebut otoritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya. Dengan kata lain, partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman adalah tanggung jawab siswa, bukan guru, maka diharapkan guru menerapkan model Paikem.

Rumusan Masalah
Melalui penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah melalui model Paikem aktivitas dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011 meningkat?
2.      Apakah melalui model Paikem kreativitas dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011 meningkat?
3.      Apakah melalui model Paikem efektivitas dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011 meningkat?
4.      Apakah melalui model Paikem suasana dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011 menyenangkan?
5.      Apakah melalui model Paikem hasil kompetensi menulis karangan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa kelas V SD Negeri 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011 meningkat?
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan khusus dalam penelitian tindakan kelas dibawah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui peningkatan aktivitas dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011.
2.      Untuk mengetahui peningkatan kreativitas dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011.
3.      Untuk mengetahui peningkatan efektivitas dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011.
4.      Untuk mengetahui suasana dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011
5.      Untuk mengetahui peningkatan hasil kompetensi menulis karangan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian tindakan kelas dibawah ini adalah sebagai berikut:
a.       Manfaat bagi siswa, memberikan pengalaman belajar yang aktif, inovatif, kreatif dalam suasana pembelajaran yang menyenangkan.
b.      Manfaat bagi guru, memberikan langkah dan arah yang jelas kepada guru dalam mengimplementasikan model PAIKEM dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian dalam pembelajaran Bahasa Indonesia serta memberikan masukan yang sangat penting bagi guru untuk memperluas pandangan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan model PAIKEM sehingga siswa dapat belajar lebih efektif dan efisien.
KAJIAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN
Pembelajaran Menulis Karangan di Sekolah Dasar
Hakikat Menulis Karangan
Secara umum pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar, berkomunikasi, mengungkapkan pikiran, perasaan, serta membina persatuan dan kesatuan bangsa. Khusus di SD pembelajaran lebih mengutamakan khusus untuk pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia sederhana melalui kegiatan membaca dan menulis atau mengarang (Depdiknas, 2010: 195).
Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berfikir dan sikap berbahasa baik secara lisan maupun secara tertulis. Sedangkan pembelajaran menulis secara khusus membimbing peserta didik agar mampu menggunakan gagasan, pendapat, pengalaman, pengalaman maupun pesan secara tertulis.
Teori menulis atau mengarang memang mudah dan gampang dihafal. Tetapi, menulis atau mengarang bukanlah sekedar teori melainkan ketrampilan. Mengarang pada hakikatnya adalah menfungkapkan atau menyampaikan gagasan dengan bahas tulis (Suparno, 2008:3). Gagasan dapat diungkapkan dengan kata, kalimat, paragraf dan ketrampilan yang utuh. Ketrampilan menulis yang dimiliki seseorang tidak datang secara otomatis, tetapi harus dipelajari dan diasah terus menerus melalui pelatihan secara nyata dalam bentuk praktik langsung menulis bukan teori. Tanpa dilibatkan langsung dalam kegiatan dan latihan menulis, seseorang tidak akan pernah mampu menulis dengan baik. Dia harus mencoba dulu berlatih dengan berulang kali dalam memilih topik, menentukan tujuan, mengenali pembaca, mencari informasi pendukung, menyusun kerangka karangan, suka menulis dan menuangkan ide-idenya secara runtut dan tuntas dalam rincian bahasa yang terpahami.
Tahap-Tahap Penulisan Karangan
Sesuai dengan tahapan itu, tahap prapenulisan merupakan tahap kegiatan yang paling awal. Tahap perancangan karangan meliputi: penentuan topik karangan, penentuan tujuan penulisan karangan, dan penyusunan kerangka karangan.
Penentuan Topik Karangan
Agar kegiatan menulis dapat berlangsung secara efektif dan berhasil guna seperti yang diharapkan seorang penulis hendaknya memiliki pengetahuan tentang teknik-teknik atau cara-cara menulis dengan seksama sehingga diharapkan tulisan yang dituangkannya menjadi baik dan berbobot. Berkaitan dengan itu White (dalam Iim Rahma, 1997: 3) berpendapat bahwa seorang penulis yang baik harus dapat memilih dan menentukan isi pikiran yang akan dituangkannya ke dalam tulisan yang berupa topik.
Topik adalah suatu hal yang dibahas di dalam paragraf. Topik inilah yang sebelumnya berperan sebagai faktor pemersatu padu terhadap keberadaan sejumlah kalimat yang ada di dalam paragraf tersebut (Nuriadi, 2008: 144). Suparno ,(2008: 3.3) menjelaskan tentang istilah topik karangan dapat diartikan sebagai hal pokok yang dituliskan atau diungkapkan dalam karangan. Topik karangan  berbeda dengan tema karangan. Tema karangan adalah gagasan dasar yang mendasari sebuah karangan. Dengan demikian, tema manjadi gagasan dasar tempat beradanya topik. Dalam proses penulisan karangan, tema merupakan gagasan dasar yang menjadi tumpuan topik karangan. Topik karangan menjadi hal pokok yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan tema.
Penentuan Tujuan Penulisan
             Menurut Wahyudi (2010: 69), setiap tulisan memiliki tujuan, beberapa tujuan yang dikandung oleh tulisan yaitu: memberitahukan atau mengajar, meyakinkan atau mendesak, menghibur atau membahagiakan, dan mengutarakan perasaan dan emosi yang berapi-api. Tulisan bertujuan memberitahu atau mengajar disebut wacana informative. Tulisan yang bertujuan untuk meyakinkan atau mendesak disebut wacana persuasif. Tulisan yang bertujuan menghibur atau membahagiakan disebut wacana kesastraan, tulisan literer. Sedangkan tulisan yang bertujuan untuk mengekspresikan perasaan dan emosi disebut wacana ekspresif.
Penyusunan Rancangan Karangan
            Penyusunan rancangan karangan adalah langkah prapenulisan setelah penulisan topik.
Kerangka karangan (out line) adalah kerangka tulis yang menggambarkan bagian-bagian atau butir-butir isi karangan dalam tatanan yang sistematis. Dalam kerangka karangan akan tampak butir-butir isi karangan yang menggambarkan (1) sub-topik karangan, dari segi jumlah dan jenisnya, (2) urutan sub-topik isi karangan, dan (3) hubungan antar sub-topik dalam karangan. Dengan sifatnya yang sistematis, kerangka karangan menggambarkan organisasi isi karangan (Suparno, 2008: 3.8)
Model Penilaian Hasil Karangan
           Nurgiyantoro (1995: 303) menyebutkan model penilaian analitis dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu: (1) model penilaian tugas menulis mempergunakan skala, (2) model penilaian tugas menulis dengan pembotan masing-masing unsur, dan (3) model penilaian tugas menulis model skala interval.
Dalam aktivitas menulis tersebut, yang pertama menekankan unsur bahasa, sedangkan yang kedua gagasan. Kedua unsur tersebut dalam tugas-tugas menulis yang dilakukan di sekolah hendaknya diberi penekanan yang sama. Artinya, walaupun tugas itu diberikan dalam rangka mengukur kemampuan berbahasa, penilaian yang dilakukan sebaiknya mempertimbangkan ketepatan bahasa dalam kaitannya dengan konteks dan isi. Jadi, penilaian ditekankan pada kemampuan siswa mengorganisasikan dan mengemukakan gagasan dalam bentuk bahasa secara tepat ( Nurgiyantoro, 2001: 298).
Jenis-jenis Tes Pembelajaran Menulis
Sugito (2009:7.9) menyatakan beberapa tes yang biasa digunakan dalam pembelajaran menulis adalah:1). Tes Pratulis; 2). Tes Menulis Terpadu; 3) tes menulis bebas
Lebih lanjut, Nurgiantoro (1995:302) mengungkapkan bahwa penilaian terhadap karangan bebas mempunyai kelemahan pokok, yaitu rendahnya kadar objektivitas. Dalam hal ini, unsur subjektivitas penilai pasti berpengaruh. Sebuah karangan yang dinilai oleh dua orang atau lebih biasanya tidak akan sama skornya. Bahkan, sebuah karangan dinilai oleh hanya seorang penilai pun kondisinya berlainan. Ada kemungkinan skor yang diberikan berbeda. Masalah yang perlu dipikirkan adalah bagaimana cara memilih model penilaian yang memungkinkan penilai untuk memperkecil kadar subjektivitas dirinya.
Sementara itu, Zaini Machmoed (dalam Nurgiyantoro, 2001:303) menyatakan bahwa penilaian yang bersifat holistik memang diperlukan. Akan tetapi, agar guru dapat menilai secara lebih objektif dan dapat memperoleh informasi yang lebih memerinci tentang kemampuan siswa untuk keperluan diagnostik-edukatif, penilaian hendaknya sekaligus disertai dengan penilaian yang bersifat analitis. Penilaian dengan pendekatan analisis merinci karangan ke dalam aspek-aspek atau kategori-kategori tertentu. Memerinci karangan ke dalam kategori-kategori tersebut antara karangan yang satu dengan yang lain dapat berbeda tergantung jenis karangan itu sendiri. Walaupun pengkategorian itu bervariasi hendaknya kategori tersebut meliputi 5 pokok, yaitu: (1) kualitas dan ruang lingkup isi, (2) organisasi dan penyajian isi, (3) gaya dan bentuk bahasa, (4) mekanik: tata bahasa, ejaan, tanda baca, kerapian tulisan, dan kebersihan, dan (5) respon afektif guru terhadap karya tulis.
Hakikat Model Paikem
PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is funmerupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas. Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa. Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi. <http://www.2lisan.com/rss/pengertian-paikem-menurut-para-ahli> (diakses 12 Agustus 2010)
Sufanti (2010: 38) menjelaskan PAIKEM adalah pembelajaaran yang diciptakan oleh guru yang mampu membuat siswa aktif belajar, munculnya inovasi-inovasi yang terus menerus, mengembangkan kreativitas siswa, mampu mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan tetapi dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan.
Perencanaan model Paikem dalam Pembelajaran Menulis Karangan
Perencanaan pembelajaran atau biasanya disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajran di kelas. ( Muslich.2009: 53) perencanaan pembelajaran atau biasa disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas.
Budimansyah.dkk. (2010: 149-150) menjelaskan untuk mempersiapkan proses pembelajaran dengan pendekatan PAKEM, pendidik mempersiapkan beberapa langkah kegiatan sebagai berikut : (1) telah membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) baik sebagai gagasan sendiri pendidik maupun minimal dengan mengembangkan dan atau memberikan pengayaan RPP yang telah dibuat oleh koleganya. (2) berdasarkan RPP tersebut, pendidik kemudian menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan, seperti sumber belajar (buku pelajaran, kamus atau ensiklopedia, koran dan majalah), media dan alat peraga yang digunakan. (3) memilih dan memperhitungkan dengan mantap bahwa strategi dan metode yang sesuai dengan RPP yang telah dikembangkan, (4) jika akan dilanjutkan dengan penilaian, maka lembar soal ataupun instrument penilaian yang akan digunakan telah disiapkan dengan baik dan lengkap. (5) siap dengan niat kuat untuk melaksanakan proses pembelajaran bersama peserta didik.
Pelaksanaan Model Paikem dalam Pembelajaran Menulis Karangan
            Langkah-langkah proses pembelajaran menggunakan model PAIKEM yaitu melalui langkah persiapan,  pelaksanaan, dan refleksi. Menurut Rohmadi. (2009: 7) seorang guru bahasa Indonesia harus memahami betul strategi mengajarkan empat keterampilan berbahasa dengan terintegrasi satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, akan diperoleh kemampuan untuk menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pengajaran menulis berbasis PAIKEM dapat dilakukan dengan urutan sebagai berikut: (a) penjelasan tujuan pembelajaran keterampilan menulis kepada para siswa; (b) mempersiapkan media pembelajaran (topik-topik) yang akan digunakan bahan untuk berlatih keterampilan menulis untuk para siswa; (c) para siswa diminta berpasangan membentuk kelompok 4-5 siswa kemudian diberi nama kelompok, atau bisa juga secara individu bergantung pada topiknya; (d) kemudian masing-masing kelompok diberi topik untuk diamati dan dijadikan inspirasi; (e) kemudian para siswa atau secara berurutan kelompok-kelompok tadi memperentasikan hasil kelompoknya; (f) mintalah satu kelompok untuk mengomentari atau menanggapi kelompok lain; (g) perhatikan anak-anak yang tidak ada respon atau apresiasi dalam menulis atau diam saja.,teliti ada masalah apa anak tersebut tidak mau menulis; (h) kemudian berikan simpulan, penguatan, refleksi, dan tidak lanjut. ( Rohmadi dkk., 2009: 10-11).
Penilaian model Paikem
Penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didi (Depdiknas.2007: 4). Penilaian pendidikan adalah proses untuk mendapatkan informasi tentang prestasi atau kinerja peserta didik. Hasil penilaian digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap ketuntasan belajar peserta didik dan efektivitas proses pembelajaran.
Penilaian yang sesuai dengan pembelajaran model PAIKEM adalah penilaian otentik yang merupakan proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran peserta didik melalui beberapa teknik yang mampu mengungkapkan membuktikan atau menunjukkan secara tepat  bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Untuk melakukan penilaian berbasis PAIKEM dalam pembelajaran, ada baiknya guru memperhatikan sungguh-sungguh tentang beberapa hal yaitu: aktivttas, kreativitas, efektivitas, dan menyenangkan. Proses penilaian Paikem harus benar-benar objektif dan sesuai realitas yang ada. Jangan sampai ada yang ditutup-tutupi, karena hanya akan menghambat proses pengembangan selanjutnya. Dengan objektivitas yang tinggi. Evaluasi akan berjalan dengan baik dan efektif.
Kerangka Berpikir
Beradasarkan pada landasan teori yang diuraikan di atas dapat dijelaskan kerangka berpikir dalam penelitian sebagai berikut :

























SISWA
Kreativitas  dan ketrampilan mengarang  rendah
 


Right Arrow Callout: GURU Belum menerapkan model Paikem

Oval: KONDISI AWAL

 
 




 
SIKLUS I
Menggunakan model Paikem dilakasanakan di kelas
 
             
Menerapkan model Paikem

 
Oval: TINDAKAN                









 




SIKLUS II
Menggunakan model Paikem dilaksanakan di luar kelas

 
 










 







Skema Kerangka Berpikir
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian dan kerangka berfikir di atas diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut :
1.        Melalui model Paikem dapat meningkatkan aktivitas dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011.
2.      Melalui model Paikem dapat meningkatkan kreativitas dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011.
3.      Melalui model Paikem dapat meningkatkan efektivitas dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011.
4.      Melalui model Paikem dapat meningkatkan suasana belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia tentang kompetesi menulis karangan bagi siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011.
5.      Melalui model Paikem dapat meningkatkan hasil kompetensi menulis karangan dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa kelas V SD Negeri 01 semester I tahun pelajaran 2010/2011.
METODOLOGI PENELITIAN
Setting Penelitian
Waktu dan Subyek Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu bulan September 2010 sampai dengan bulan Nopember 2010. Penelitian dilakukan pada waktu itu karena materi yang berhubungan dengan permasalahan menulis  karangan untuk siswa kelas V masuk materi program semester 1 tahun ajaran 2010/2011.
         Yang menjadi subyek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas V SD Negeri Banaran 01 UPTD Pendidikan Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo, dengan jumlah siswa 16 yang terdiri dari 9 laki-laki dan 7 perempuan.
Sumber  dan Teknik Pengumpulan Data
Sumber data pada penelitian tindakan kelas ini ada dua yaitu data yang berasal dari subyek penelitian dan dari bukan subyek. Sumber data dari subyek penelitian merupakan sumber data primer yaitu tentang proses dan hasil belajar siswa.
            Sedangkan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
Alat Pengumpulan Data
1.    Dokumen yang berupa daftar nilai/ laporan penilaian, pengolahan dan analisis hasil belajar siswa yang digunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar kondisi awal siswa.
2.    Penugasan digunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar siswa yang berupa lembar tugas.
3.    Pengamatan, menggunakan lembar penilaian yaitu untuk mengetahui proses belajar mengajar tentang aktivitas, kreativitas, efektivitas dan suasana belajar siswa.
Validitas Data dan Analisis Data
        Untuk memperoleh data yang valid mengenai  kompetensi menulis karangan  siswa kelas V SD Negeri Banaran  01 semester I tahun ajaran2010/2011 yaitu :
1.      Proses pembelajaran siswa (pengamatan) divalidasi dengan melalui trianggulasi sumber yaitu data yang berasal dari siswa, guru, dan kolaborasi teman sejawat. Data kualitatif hasil pengamatan menggunakan analisis deskriftif kualitatif berdasarkan pengamatan dan refleksi dengan membandingkan proses  siklus I dan siklus II.
2.      Produk yang berupa hasil karangan  divalidasi adalah lembar tugas dengan content validity diperlukan kisi-kisi kompetensi menulis karangan. Data yang berupa angka (data kuantitatif) menggunakan analisis deskriptif komperatif yaitu membandingkan hasil nilai ketrampilan mengarang kondisi awal, nilai tes siklus I, dan nilai tes siklus II kemudian direfleksi).
              Analisis data yaitu data kualitatif hasil pengamatan proses pembelajaran dianalisis menggunakan analisis diskriptif kualitatif dengan membandingkan siklus I dan siklus II. Sedangkan data yang berupa angka (data kuantitatif) dari hasil belajar siswa dianalisis menggunakan diskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes setelah siklus I dan nilai tes setalah siklus II, kemudian direfleksi.
Prosedur Tindakan
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap pengamatan/observasi dan refleksi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Diskripsi Kondisi Awal
Hasil tes kondisi awal sebelum dilaksanakan tindakan dapat dilihat tabel dibawah ini :





Nilai Ulangan Harian dan Ketuntasan belajar Kondisi Awal
NO
Interval Nilai
Frekuensi
Prosentase (%)
Keterangan
1
41-50
1
6,25
Belum Tuntas
2
51-60
11
68,75
Belum Tuntas
3
61-70
4
25
Jumlah
16
100

Sumber : Data September 2010
              Berdasarkan dari tabel diatas tentang hasil nilai pembelajaran menulis karangan siswa kelas V SD Negeri Banaran 01  Semester I tahun ajaran 2010/2011 ada 12 siswa atau 75 % dinyatakan belum tuntas, dan 4 siswa atau 25 % dinyatakan tuntas. nilai yang masih dibawah KKM 63 yaitu terdiri dari 1 siswa memperoleh nilai antara 41-50, 11 siswa yang memperoleh nilai antara 51-60,dan 4 siswa memperoleh nilai antara 61-70. Nilai rata-rata ulangan kondisi awal yaitu: 60,31.
Deskripsi Siklus I
Hasil pengamatan tentang proses pembelajaran siswa dan guru, kreativitas proses pembelajaran siswa dapat dilihat dalam tabel  berikut :
Prosentase  Proses Pembelajaran Siklus I
Aspek
Jumlah Skor
Rata-rata
Prosentase
Keterangan
1
Aktivitas
43
2,68
53,75
Cukup Aktif
2
Kreativitas
44
2,75
55
Cukup Kreatif
3
Efektivitas
42
2,62
52,5
Cukup Efektif
4.
Susasana Belajar
40
2,5
50
Cukup Menyenangkan

Hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :
Tabel Nilai Ulangan Harian dan Ketuntasan Belajar Siklus I
NO
Interval Nilai
Frekuensi
Prosentase (%)
Keterangan
1
51-60
5
31,25
Belum Tuntas
2
61-70
7
43,75
Tuntas
3
71-80
4
25
Tuntas
Jumlah
16
100

Sumber : Data Oktober 2010
              Berdasarkan dari tabel diatas tentang hasil nilai pembelajaran menulis karangan siswa kelas V SD Negeri Banaran 01  Semester I tahun ajaran 2010/2011 ada 5  siswa atau 31,25 % dinyatakan belum tuntas, dan 11 siswa atau 68,75 % dinyatakan tuntas. nilai yang masih dibawah KKM 63 yaitu terdiri dari 5 siswa yang memperoleh nilai antara 51-60, 7siswa memperoleh nilai antara 61-70, dan 4 siswa memperoleh nilai antara71-80. Nilai rata-rata ulangan siklus I yaitu: 69,06.
Deskripsi Siklus II
.Hasil pengamatan tentang proses pembelajaran siswa dan guru, kreativitas proses pembelajaran siswa dapat dilihat dalam tabel  berikut :
Tabel Perolehan  Proses Pembelajaran Siklus II
No
Aspek
Jumlah Skor
Rata-rata
Prosentase
Keterangan
1
Aktivitas
58
3,62
72,5
Aktif
2
Kreativitas
57
3,56
71,25
Kreatif
3
Efektivitas
57
3,56
71,25
Efektif
4.
Susasana Belajar
60
3,75
75
Menyenangkan
Tabel Nilai Ulangan Harian dan Ketuntasan Belajar Siklus II
NO
Interval Nilai
Frekuensi
Prosentase (%)
Keterangan
1
61-70
6
37,5
Tuntas
2
71-80
6
37,5
Tuntas
3
81-90
4
25
Tuntas
Jumlah
16
100

              Berdasarkan dari tabel diatas tentang hasil nilai pembelajaran menulis karangan siswa kelas V SD Negeri Banaran 01  Semester I tahun ajaran 2010/2011 seluruh siswa dinyatakan tuntas, 16 siswa mendapatkan nilai diatas KKM 63. yaitu terdiri dari 6 siswa yang siswa memperoleh nilai antara 61-70, dan 6 siswa memperoleh nilai antara71-80.  Dan 4 siswa memperoleh nilai antara 81-90. Nilai rata-rata ulangan siklus II yaitu: 76,25.
Pembahasan/Diskusi
Dalam pembahasan ini ada 3 hal yang akan dibahas, yaitu meliputi tindakan, aktivitas proses pembelajaran, dan hasil belajar siswa.
1.    Tindakan
No
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
1
Belum menggunakan Model Paikem
Menggunakan Model Paikem dilaksanakan di dalam kelas
Menggunakan Model Paikem dilaksanakan di luar kelas
2.    Aktivitas Proses Pembelajaran
No
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Refleksi
1
Siswa :
Aktivitas, kreativitas, efektivitas, suasana belajar siswa dalam pembelajaran menulis karangan masih kurang.


























Aktivitas Kinerja Guru :
Pembelajaran terpusat pada guru dan penyampaian materi bersifat monoton tanpa variasi serta belum dapat menciptakan suasana belajar yang menarik dan menyenangkan
Aktivitas:
Jumlah skor : 43
Nilai rata-rata : 2,68
Prosentase : 53,75 %
Katagori : Cukup Aktif

Kreativitas:
Jumlah skor : 44
Nilai rata-rata : 2,75
Prosentase : 55 %
Katagori : Cukup Kreatif

Efektivitas:
Jumlah skor : 42
Nilai rata-rata : 2,62
Prosentase : 52,5%
Katagori : Cukup Efektif

Suasana Belajar:
Jumlah skor : 40
Nilai rata-rata : 2,5
Prosentase : 50%
Katagori : Cukup Menyenangkan





Aktivitas Kinerja Guru:
Jumlah skor : 39
Nilai rata-rata: 3,00
Prosentase: 60,00%
Katagori : Kurang Baik
Aktivitas:
Jumlah skor : 58
Nilai rata-rata : 3,62
Prosentase : 72,5 %
Katagori :  Aktif

Kreativitas:
Jumlah skor : 57
Nilai rata-rata : 3,56
Prosentase : 71,25 %
Katagori : Cukup Kreatif

Efektivitas:
Jumlah skor : 57
Nilai rata-rata : 3,56
Prosentase : 71,25 %
Katagori : Cukup Efektif

Suasana Belajar:
Jumlah skor : 60
Nilai rata-rata : 3,75
Prosentase : 75 %
Katagori : Menyenangkan



Aktivitas Kinerja Guru :
Jumlah skor : 60
Nilai rata-rata: 4,61
Prosentase: 92,30 %
Katagori : Kurang Baik
Dari siklus I ke siklus II, terdapat peningkatan aktivitas, dari jumlah skor 43 menjadi 58 meningkat 15, rata-rata 2,68 menjadi 3,62, meningkat 0,94 prosentase 53,7 % menjadi 72,5%. Meningkat 18,88 Dari kategori cukup aktif menjadi aktif

Dari siklus I ke siklus II, terdapat peningkatan Kreatifitas, dari jumlah skor 44 menjadi 57 meningkat 13, rata-rata 2,75 menjadi 3,56, meningkat  0,81 prosentase 55 % menjadi 71,25%. Meningkat 16,25  Dari kategori cukup kreatif menjadi kreatif

Dari siklus I ke siklus II, terdapat peningkatan efektivitas dari  jumlah skor 42 menjadi 57 meningkat15, rata-rata 2,62 menjadi 3,56, meningkat  0,94 prosentase 52,5 % menjadi 71,25%. meningkat  18,75.Dari kategori cukup efektif menjadi efektif

Dari siklus I ke siklus II, terdapat peningkatan suasana belajar , dari jumlah skor 40  menjadi 60 meningkat 20,  rata-rata 2,5  menjadi 3,75 meningkat 1,25, prosentase 50 % menjadi 75%. meningkat  25 % Dari kategori cukup menyenangkan menjadi menyenangkan

Aktivitas kinerja guru siklus I dan siklus II terdapat peningkatan. Jumlah skor 39 menjadi 60 meningkat 21. Nilai rata-rata 3,00 menjadi 4,61 meningkat 1,61. Persentase 60,00% menjadi 92,30 % naik 32,30 %. Dari katagori kurang baik menjadi baik
3.    Hasil Belajar Siswa
No
Kondisi Awal
Siklus I
Siklus II
Refleksi Kondisi Awal ke Siklus II
1
Dari 16 siswa yang mendapat nilai :
Tuntas 4 siswa (25%), dan siswa yang belum tuntas 12 siswa (75%) nilai rata-rata 60,31
Dari 16 siswa yang mendapat nilai :
Tuntas 11 siswa (68,75%), dan siswa yang belum tuntas 5 siswa (31,25%) nilai rata-rata 69,06
Dari 16 siswa yang mendapat nilai :
Tuntas 16 siswa (100%), dan nilai rata-rata 76,25
Dari kondisi awal  ke siklus II mengalami peningkatan yaitu  dari 4 siswa (25 %) yang mendapat nilai tuntas menjadi 16 (100%) meningkat 12 (75 %). Nilai rata-rata dari 60,31 menjadi 76,25 meningkat sebesar 15,94.